SINTANG – Prosesi sakral penancapan empat tiang pilar rumah milik Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Barat, berlangsung dengan penuh makna. Rumah yang dibangun ini mengusung filosofi kearifan lokal dengan penggunaan kayu Ulin atau yang dikenal sebagai kayu besi, salah satu jenis kayu terkuat yang berasal dari hutan Kalimantan.
Acara dimulai dengan ibadah pemberkatan yang dipimpin oleh seorang pastor. Doa bersama ini menjadi langkah awal untuk memohon perlindungan dan berkat bagi rumah yang akan dibangun. Usai ibadah, prosesi dilanjutkan dengan ritual adat besampi yang berasal dari tradisi suku Dayak Desa. Ritual ini menggunakan berbagai bahan alami yang dipercaya memiliki makna spiritual dan simbolis.
Dalam prosesi besampi, berbagai bahan digunakan, di antaranya buah kulor, kayu kudih, kayu Sabang bubu, kayu jejaga, kayu sukong, serta seekor babi kampung. Masing-masing bahan ini memiliki filosofi mendalam. Buah kulor berfungsi sebagai pencelap atau pendingin, agar penghuni rumah merasa nyaman dan tidak mudah merasa panas. Kayu kudih atau kayu tembunik dipercaya dapat membuat rumah tetap kokoh meskipun diterpa angin kencang. Kayu Sabang bubu berfungsi sebagai penangkal petir, sedangkan kayu jejaga dipercaya akan selalu menjaga penghuni rumah. Adapun kayu sukong diharapkan dapat memberikan dukungan agar segala rencana yang dibuat dapat tercapai dengan baik.
Sebagai bagian dari ritual adat, dilakukan juga penyembelihan babi kampung. Darah hewan tersebut kemudian diteteskan di sekitar lubang tempat tiang akan ditanam, sebagai simbol penyatuan antara rumah dengan alam semesta. Ritual ini mencerminkan harmoni antara manusia dan lingkungan dalam budaya Dayak.
Setelah prosesi besampi selesai, empat tiang pilar dari kayu Ulin pun ditancapkan ke tanah dengan penuh khidmat. Prosesi ini berjalan lancar dan penuh kharisma. Menariknya, setelah tiang pilar selesai ditanam, hujan pun turun membasahi tanah, yang dalam kepercayaan setempat dianggap sebagai pertanda baik dan simbol rezeki yang melimpah.
Dengan menggabungkan nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal, rumah berpilar Ulin ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Keunikan dalam pembangunan rumah ini menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai-nilai leluhur tetap hidup dalam kehidupan modern, terutama di tengah masyarakat Dayak Kalimantan Barat. (TRI)